Ceriwis  

Go Back   Ceriwis > DISKUSI > Religion > Islam

Reply
 
Thread Tools
  #1  
Old 18th November 2010
Ulama Ulama is offline
Ceriwis Lover
 
Join Date: Nov 2010
Posts: 1,239
Rep Power: 17
Ulama mempunyai hidup yang Normal
Default tulisan deri temen soal ramadhan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Hari ini, saya menyempatkan diri untuk mendirikan sholat 2 rakaat di waktu dhuha. Karena kos saya kurang nyaman untuk dipakai sholat, saya memutuskan untuk pergi ke masjid dekat kos. Ketika saya selesai mengambil wudhu, saya perhatikan masjid itu sepi. Hanya ada seorang laki-laki di situ, duduk di teras masjid, bersila di belakang meja bertuliskan "zakat fitrah".

Melihat itu, saya agak terpana, dan sholat saya jadi agak melankolis (tenang... gue gak nyampe nangis bombay kok... cuma ada deep blue something aja di dalam diri). Ada sebuah kesadaran yang mengganggu saya, dan itu selalu berulang setiap tahun, bahwa Ramadhan akan segera pergi.

Ramadhan akan pergi, tanpa memberi kepastian apakan tahun depan ia akan menghampiri kita lagi. Dalam 11 bulan, banyak hal yang bisa terjadi pada diri manusia. Bisa jadi ia mati, atau berubah jadi kafir, atau sakit sehingga seumur hidup tidak bisa puasa lagi. Kesadaran akan sebuah kenisbian itu membuat saya tak mampu berkata banyak. Bukankah baru saja ia datang? Belum banyak yang saya lakukan untuk bisa meraih berbagai keutamaan yang ditebarkannya. Kini, ia akan pergi, dan saya harus coping (deal ) dengan perasaan kehilangan, yang tiap tahun saya rasakan. Sebuah coping yang tidak pernah berhasil, karena semua kenikmatan yang diberikan Ramadhan begitu memikat. Pola berulang tidak akan membuat saya belajar. Saya cenderung relapse (duilah... kayak pengguna narkoba aja) pada ekstasi ibadah, dan sulit untuk pulih dari situ.

Terus terang, puasa tahun ini saya rasakan berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Biasanya puasa saya antiklimaks. Di akhir-akhir, saya cenderung berbuat hal yang sia-sia, sehingga ada rasa kehilangan yang amat besar. Padahal, di awal hingga pertengahan, saya jor-joran banget. Ramadhan kali ini lebih konstan. Ibadahnya tidak terlalu banyak, cenderung tidak teratur dalam kuantitas, tapi saya rasakan lebih bisa menjaga saya daripada dulu-dulu, yang secara kuantitas oke... tapi, kok kayak nggak efek ya? Jadi, mana yang lebih penting? Kuantitas atau kualitas?

Mungkin itu bukan pertanyaan yang bisa dengan mudah dijawab, karena dua-duanya penting. Cuma... Ramadhan ini gue sangat bersyukur, bahwa Allah mendekatkan gue dengan orang-orang yang gue sayangi. Ramadhan ini banyak diisi dengan main monopoli, buka puasa bareng di sana-sini, dan mengunjungi bekas-bekas murid saya. Itu bukan ibadah, tapi ada kesenangan tersendiri yang saya rasakan, dan saya sangat bahagia Allah memunculkan itu semua buat saya. orang tua saya jadi lebih perhatian, dan... wah! banyak lah... dan terus terang... kuantitas jadi gak terlalu penting buat saya. Saya mungkin tidak serajin dulu (tanpa menggugurkan yang wajib loh...), tapi saya rasakan diri saya lebih mantap. Semoga seumur hidup saya, saya merasakan ini terus. Saya lelah terus menyesal dan merasa kehilangan.. ..

Terima kasih Ramadhan... Terima kasih Allah Swt... kuasa-Mu memang menakjubkan. ...

- reza -


PS: akhirnya... koko baru itu bisa kupakai dengan bangga...!
Reply With Quote
Reply


Posting Rules
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts

BB code is On
Smilies are On
[IMG] code is On
HTML code is Off


Terkait
Thread Thread Starter Forum Replies Last Post
nanya dong gan, soal temen khayalan mencekam13 Misteri, Horror, Supranatural 0 22nd April 2012 05:08 PM
Mohon bantuan soal keyboarth ane nih(sorry kalo susah baca tulisan ane) Motherboard360 Hardware 0 18th November 2011 02:09 PM
Tulisan Dari Temen Ulama Islam 0 18th November 2010 08:36 AM
tulisan dari temen Ulama Islam 0 18th November 2010 08:34 AM

 


All times are GMT +7. The time now is 12:56 AM.